|
Harga Pupuk Melambung Tinggi
TEGAL -- Pemerintah Daerah dinilai gagal memberikan perlindungan kepada petani dalam masalah kelangkaan dan melambungnya harga pupuk bersubsidi di wilayah Tegal dan Brebes dalam dua bulan terakhir. Hal ini menyusul tidak berjalannya Komisi Pengawas Pupuk dan Pestisida (KP3) yang melakukan pengawasan terhadap pelanggaran dan penyimpangan distribusi di lapangan.
Demikian disampaikan Wakil Ketua Komisi IV DPR RI, Suswono, usai
melakukan kunjungan ke Kabupaten Tegal dan Kabupaten Brebes pada hari
Minggu (01/06) kemarin. Menurut anggota DPR RI asli Tegal ini, masalah
kelangkaan dan tingginya harga pupuk tidak akan berlarut-larut seperti
sekarang asalkan Pemerintah Daerah serius membantu petani dengan
mengoptimalkan fungsi Komisi Pengawas Pupuk dan Pestisida.
”Harga pupuk bersubsidi yang dijual melampaui HET (harga eceran
tertinggi) sudah merupakan bentuk pelanggaran. Apabila KP3 yang
dibentuk Pemda bekerja optimal, seharusnya sudah ditemukan akar masalah
dan pelakunya di lapangan. Kenyataannya, harga pupuk masih tetap
melambung tinggi dan petani masih kesulitan mendapatkan pupuk. Artinya
tidak ada sesuatu yang dihasilkan dari kerja KP3 tersebut”, jelas
Suswono.
Kepala Daerah Tidak Sigap
Dalam kunjungan kali ini, Suswono kembali menggali perkembangan
informasi distribusi dan harga jual pupuk di lapangan. Dirinya merasa
kecewa karena hampir semua pihak yang terkait dengan kelancaran dan
ketepatan distribusi pupuk tidak tampak hasil kerjanya di lapangan.
”Parameter tidak berjalannya sistem yang ada sudah sangat jelas, yaitu
harga yang selalu di atas HET. Petani saat ini harus merogoh Rp. 70.000
sampai Rp. 85.000/kantung. Padahal, HET yang telah disubsidi sebesar
Rp. 60.000/ kantung”, ungkap Suswono.
Anggota FPKS DPR RI ini menyayangkan peran Pemerintah Daerah yang
tampak tidak sigap mengatasi permasalahan tersebut. Padahal, yang
terkena imbas terberat adalah kalangan petani yang notabene bagian
terbesar penduduk di Kabupaten Tegal dan Brebes.
”Saya trenyuh melihat petani dan rakyat yang saya wakili terus
kesusahan akibat ulah spekulan pupuk. Harusnya Bupati sebagai
penanggung jawab Pemerintahan Daerah cepat tanggap memimpin KP3 agar
supaya bergigi dan membongkar permainan pupuk bersubsidi ini. Namun,
sampai sejauh ini saya belum melihat langkah-langkah Bupati Tegal
maupun Bupati Brebes guna mengatasi masalah tersebut”, terang Suswono.
Lakukan Investigasi
Kronisnya kelangkaan dan mahalnya harga pupuk disinyalir terjadi karena
berlangsungnya pelanggaran dan penyimpangan di lapangan secara kontinu.
Salah satunya adalah adanya beberapa laporan yang menyebutkan banyak
pengecer pupuk tidak resmi yang sengaja menimbun pupuk akhir-akhir ini.
Masalah tersebut hanya bisa selesai apabila aparat terkait memiliki
kemauan dan komitmen untuk membongkar semua mata rantai penyebabnya.
Pemerintah Daerah yang memiliki banyak sumber daya manusia, anggaran,
dan infrastruktur diharapkan keseriusannya dalam masalah ini. “Saya
minta agar KP3 yang telah dibiayai negara dapat menjalankan fungsinya.
Lakukan investigasi khusus terhadap pelanggaran distribusi pupuk,
termasuk adanya dugaan penimbunan pupuk. Kalau semua bekerja optimal,
saya yakin masalah ini dapat diatasi”, tegas Suswono.
Politisi dari Partai Keadilan Sejahtera ini selanjutnya meminta agar
semua pihak yang melanggar diberikan sanksi hukum yang tegas. Untuk
itu, dirinya kembali minta keseriusan Kepala Daerah untuk memperhatikan
nasib petani. “Kalau masalah pupuk tidak dapat diatasi karena tidak
seriusnya aparat mengawasi sistem distribusi, saya bisa mengambil
kesimpulan bahwa Kepala Daerah ternyata tidak mampu melindungi nasib
petani yang menjadi bagian dari rakyatnya”, pungkas Suswono.
|
|
|