Javascript must be enabled in your browser to use this page.
Please enable Javascript under your Tools menu in your browser.
Once javascript is enabled Click here to go back to Ir. H. SUSWONO, MMA
 


Solusi kemiskinan dan kelaparan terletak pada dua bentuk kebijakan yakni proteksi dan subsidi. Dalam konteks kekinian kita, ada pertanyaan klasik yang layak dimunculkan tentang proteksi dan subsidi ini, yakni apakah kebijakan itu telah mencapai targetnya?. Target ”orang” yaitu subsidi memang dinikmati oleh masyarakat marjinal yang membutuhkannya. Target filosofi yaitu subsidi berhasil membantu masyarakat marjinal dan miskin tersebut keluar dari kemiskinan dan kemarjinalannya. (Suswono)

 
 
PEMERINTAH DAERAH DINILAI GAGAL LINDUNGI PETANI PDF Print E-mail
Monday, 09 June 2008
 

Views : 116    

Published in : Artikel, Kliping Media

Harga Pupuk Melambung Tinggi

TEGAL -- Pemerintah Daerah dinilai gagal memberikan perlindungan kepada petani dalam masalah  kelangkaan dan melambungnya harga pupuk bersubsidi di wilayah Tegal dan Brebes dalam dua bulan terakhir. Hal ini menyusul tidak berjalannya Komisi Pengawas Pupuk dan Pestisida (KP3) yang melakukan pengawasan terhadap pelanggaran dan penyimpangan distribusi di lapangan.

Demikian disampaikan Wakil Ketua Komisi IV DPR RI, Suswono, usai melakukan kunjungan ke Kabupaten Tegal dan Kabupaten Brebes pada hari Minggu (01/06) kemarin. Menurut anggota DPR RI asli Tegal ini, masalah kelangkaan dan tingginya harga pupuk tidak akan berlarut-larut seperti sekarang asalkan Pemerintah Daerah serius membantu petani dengan mengoptimalkan fungsi Komisi Pengawas Pupuk dan Pestisida.
”Harga pupuk bersubsidi yang dijual melampaui HET (harga eceran tertinggi) sudah merupakan bentuk pelanggaran. Apabila KP3 yang dibentuk Pemda bekerja optimal, seharusnya sudah ditemukan akar masalah dan pelakunya di lapangan. Kenyataannya, harga pupuk masih tetap melambung tinggi dan petani masih kesulitan mendapatkan pupuk. Artinya tidak ada sesuatu yang dihasilkan dari kerja KP3 tersebut”, jelas Suswono.
Kepala Daerah Tidak Sigap
Dalam kunjungan kali ini, Suswono kembali menggali perkembangan informasi distribusi dan harga jual pupuk di lapangan. Dirinya merasa kecewa karena hampir semua pihak yang terkait dengan kelancaran dan ketepatan distribusi pupuk tidak tampak hasil kerjanya di lapangan.
”Parameter tidak berjalannya sistem yang ada sudah sangat jelas, yaitu harga yang selalu di atas HET. Petani saat ini harus merogoh Rp. 70.000 sampai Rp. 85.000/kantung. Padahal, HET yang telah disubsidi sebesar Rp. 60.000/ kantung”, ungkap Suswono.
Anggota FPKS DPR RI ini menyayangkan peran Pemerintah Daerah yang tampak tidak sigap mengatasi permasalahan tersebut. Padahal, yang terkena imbas terberat adalah kalangan petani yang notabene bagian terbesar penduduk di Kabupaten Tegal dan Brebes.
”Saya trenyuh melihat petani dan rakyat yang saya wakili terus kesusahan akibat ulah spekulan pupuk. Harusnya Bupati sebagai penanggung jawab Pemerintahan Daerah cepat tanggap memimpin KP3 agar supaya bergigi dan membongkar permainan pupuk bersubsidi ini. Namun, sampai sejauh ini saya belum melihat langkah-langkah Bupati Tegal maupun Bupati Brebes guna mengatasi masalah tersebut”, terang Suswono.
Lakukan Investigasi
Kronisnya kelangkaan dan mahalnya harga pupuk disinyalir terjadi karena berlangsungnya pelanggaran dan penyimpangan di lapangan secara kontinu. Salah satunya adalah adanya beberapa laporan yang menyebutkan banyak pengecer pupuk tidak resmi yang sengaja menimbun pupuk akhir-akhir ini.
Masalah tersebut hanya bisa selesai apabila aparat terkait memiliki kemauan dan komitmen untuk membongkar semua mata rantai penyebabnya. Pemerintah Daerah yang memiliki banyak sumber daya manusia, anggaran, dan infrastruktur diharapkan keseriusannya dalam masalah ini. “Saya minta agar KP3 yang telah dibiayai negara dapat menjalankan fungsinya. Lakukan investigasi khusus terhadap pelanggaran distribusi pupuk, termasuk adanya dugaan penimbunan pupuk. Kalau semua bekerja optimal, saya yakin masalah ini dapat diatasi”, tegas Suswono.
Politisi dari Partai Keadilan Sejahtera ini selanjutnya meminta agar semua pihak yang melanggar diberikan sanksi hukum yang tegas. Untuk itu, dirinya kembali minta keseriusan Kepala Daerah untuk memperhatikan nasib petani. “Kalau masalah pupuk tidak dapat diatasi karena tidak seriusnya aparat mengawasi sistem distribusi, saya bisa mengambil kesimpulan bahwa Kepala Daerah ternyata tidak mampu melindungi nasib petani yang menjadi bagian dari rakyatnya”, pungkas Suswono.
 

   

Users' Comments  
 

Average user rating

   (0 vote)

 


Add your comment
Name
E-mail
Title  
 
Comment
 
Available characters: 600
   Notify me of follow-up comments
  This image contains a scrambled text, it is using a combination of colors, font size, background, angle in order to disallow computer to automate reading. You will have to reproduce it to post on my homepage
Enter what you see:

   
   

No comment posted



mXcomment 1.0.6 © 2007-2010 - visualclinic.fr
License Creative Commons - Some rights reserved
 

Komentar Terbaru

Subsidi Pupuk dan Nasib Petani
Subsidi Pupuk
Mohon subsidi pupuk yang mendatang...
21/06/10 10:32
Komentar Selengkapnya...
Oleh Muis

Lindungi Hak Petani, UU Harus...
Aaah,,,jadi bingung
Saya setuju dengan pernyataan pak Sus...
30/06/08 08:03
Komentar Selengkapnya...
Oleh Anak petani

Di KPK, Anggota Komisi IV...
Setuju
:grin
27/06/08 17:32
Komentar Selengkapnya...
Oleh Agung101

Anggota FPD Sarjan Tahir...
Lemahnya Sistem Partai
Kasus yang menimpa Sarjan membuktikan...
27/06/08 13:56
Komentar Selengkapnya...
Oleh sandhi

Di KPK, Anggota Komisi IV...
Ka'ban Harusnya Jadi Orang Hutan
Seharusnya MS Ka'ban, si Ketua Umum...
27/06/08 13:51
Komentar Selengkapnya...
Oleh sandhi

Jumlah Pengunjung

Hari ini10
Kemarin15
Pekan ini25
Bulan ini122
Total Pengunjung12170

(C) Fliesenstadt