|
"Dengan harga tersebut, artinya pemerintah telah mensubsidi beras
sebesar Rp 3.200. Semestinya berasnya bagus, tetapi nyatanya di
lapangan, kadang bagus dan bahkan lebih banyak jeleknya. Artinya Bulog
tidak melakukan kontrol dengan baik," (Radar Tegal, 16 Juni 2008)
BULOG dinilai tak konsisten dalam menjaga kualitas beras untuk rumah tangga miskin (raskin). Pasalnya, beras yang diterima rumah tangga miskin tersebut setiap bulannya berkualitas tak sama, sehingga menguatkan dugaan adanya penyelewengan oknum Bulog. Belum lagi soal ketentuan harga yang juga sering melanggar ketentuan yang ada.
Persoalan di atas merupakan hasil inspeksi mendadak (sidak) yang
dilakukan oleh Wakil Ketua Komisi IV DPR Ir Suswono MMA, Minggu (15/6),
diantaranya indikasi penyimpangan, baik yang dilakukan oleh oknum Bulog
maupun pejabat Pemerintahan Desa. Pasalnya, harga dan kualitas raskin
ternyata terus berubah, baik antar waktu pembagian perbulannya maupun
antar warga penerimanya.
"Saya dapat jatah raskin 5 kilogram. Kadang berasnya bagus, kadang juga
jelek, bermenir, terus bau apek. Harganya kemarin Rp 2.200, kadang Rp
2.000. saya bingung, sebenarnya harganya berapa," ungkap Wahudi, warga
Desa Gumalar Kecamatan Adiwerna kepada Suswono dan rombongan.
Pengakuan yang sama juga dituturkan Dahuri, warga Sidapurna Kecamatan
Dukuhturi. Dia mengaku mendapatkan jatah raskin dari desanya sebanyak 4
kilogram dengan hargatotal harga Rp 9 ribu, sehingga perkilonya
mencapai Rp 2.500. "Berasnya juga sama, kadang bagus, kadang jelek.
Tapi selama ini lebih banyak jeleknya. Sebab seringnya berasnya lembut
bermenir. Bahkan yang lembut itu sampai separuhnya sendiri," terangnya.
Padahal, sebelum sidak langsung ke masyarakat, Suswono sendiri
mengunjungi Bulog 602 Procot, Slawi. Hasil sidak tersebut juga
menunjukkan beras yang tersimpan di gudang saat itu dalam kualitas
baik. Salah seorang staf Bulog 602 Toni Ekariyanto menyatakan, jenis
beras yang dialokasikan untuk raskin adalah IR 64 yang berkualitas
bagus. "Kita biasa menyalurkan raskin untuk Brebes Selatan, Kota tegal
dan kadang juga Kabupaten Tegal. Biasanya dirolling dengan Bulog
Larangan," sungkapnya.
Suswono mengaku kecewa dengan sikap Bulog yang tak konsisten tersebut.
Hasil penuturan warga penerima raskin tersebut menurutnya
mengindikasikan jika masih ada oknum Bulog yang bermain-main dengan hak
masyarakat miskin tersebut. Dikatakannya, Pemerintah harus membayar Rp
4.700 untuk raskin. Dengan harga tersebut, ketentuannya kualitas harus
bagus, yakni jenis SNI 4, patahan maksimal 20% dan menir maksimal 2 %.
"Dengan harga tersebut, artinya pemerintah telah mensubsidi beras
sebesar Rp 3.200. Semestinya berasnya bagus, tetapi nyatanya di
lapangan, kadang bagus dan bahkan lebih banyak jeleknya. Artinya Bulog
tidak melakukan kontrol dengan baik," tegasnya. |
|
|